Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Wednesday, April 15, 2015

Sebuah Cerpen Untuk Cinta (2)



Amrita pergi meninggalkannya ke kamar tidur, menutup pintu hatinya, menguncinya sampai amarahnya meredah. Tidak tau kapan harus di buka untuk menerima maaf dari pria yang tak menghargainya.
Ari terduduk di sofa di ruang keluarga, menyadari kesalahan besarnya.
Beberapa paragraf lagi aku selesai mengetik. Ku seruput kopiku yang tak lagi hangat. Sebuah tulisan yang kupersembahkan buat orang yang hadir di hidupku. Aku tidak mencintai mereka seperti sekuntum bunga yang biasa diberikan orang-orang untuk mengucapkan sesuatu, karena bunga itu pasti akan layu. Aku mencintai mereka seperti bunga hidup, ku tanam dan ku rawat agar tetap hidup di hatiku.
Akhirnya selesai. Hanya dengan menulis fiksi aku bisa menitipkan sesuatu, yang tak akan ku munculkan di dalam rumah ini.
Jam mungil diatas meja kerja menunujukkan jam dua dini hari. Aku bangkit menuju dapur untuk mengambil air putih. Ayunina tertidur di atas kursi malas di ruang tv dengan tv yang masih menyala, meyiarkan berita yang itu-itu saja, membahas soal kebijakan Presiden yang tidak populer. Tampaknya Pak Presiden mulai kehilangan cinta rakyatnya. Dia habis-habisan dikritik oleh pengamat, dan di bully oleh netizen di media sosial.
Aku kembali teringat cinta masa laluku, saat itu aku sangat membencinya, marah, dan pergi meninggalkannya. Tapi kini aku merindu, setelah tidak tahu lagi kabar tentang nya. Begitu juga dengan sang presiden ini pikirku, rakyat pasti akan merindukannya nanti, setelah dia tidak lagi terdengar, tak lagi terlihat.
Ayunina masih tertidur, mungkin lelah meyaksikan Presiden yang kehilangan cinta. Aku menggendongnya ke kamar tidur. Menyelimutinya. Aku pandangi wajah istriku ini. cantik sekali. Aku usap rambutnya, ku kecup keningnya, ku bisikkan ketelinganya, kau tidak akan kehilangan cinta.
*********
“Sudah selesai pekerjaanmu sayang?”
“Sudah... kamu lagi baca apa?” Rara bertanya sambil berbaring di samping suaminya yang sedang duduk bersanda di tempat tidur.
“Kamu yang beli koran minggu.”
“Ia aku butuh informasi destinasi wisatanya.”
“Aku lagi baca cerpen.”
“Oh ya? Tentang apa?”
“Biasa aja. Cinta. Klise.”
“Kenapa masih membaca?”
“Sudah selesai, tapi Aku tertarik beberapa kalimat dari cerpen ini. Dengar ya! Risty meskipun beberapa kali kau buat aku menderita. tapi  Kau adalah medusa yang telah membatukan satu ruang di hatiku, membuat namamu kekal disana.”
“Kebodohan yang indah bukan.”
“Dan menurutku dia memanfaatkan tokoh fiktifnya untuk menyampaikan sesuatu buat seseorang di dunia nyata.”
 “Kamu mau tau isi suratnya?”
Aku bacakan, Risty ingatkah kau kita pernah mendongeng tentang istana ratu Azura? Yang letaknya di atas nirwana. Hanya kita yang di izinkan masuk karena alat pendeteksi mereka menyatakan kita pecinta. Risty... apa kau lupa tentang puisi-puisi yang kita nyanyikan di setiap malam, yang membuat hewan malam berhenti bernyanyi, karena puisi mereka kalah indahnya. Lupakanlah semua jika itu memang tak berarti. Aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu.” Pria itu melirik ke arah Rara yang memunggunginya dan terus melanjutkan.
“Risty meskipun beberapa kali kau buat aku menderita. tapi  Kau adalah medusa yang telah membatukan satu ruang di hatiku, membuat namamu kekal disana. Kini Amrita marah padaku karena aku masih menyimpanmu di matanya. Ini memang salahku. Risty aku ingin kau berdoa untuk kebahagiaanku juga. Aku takut kehilanngan Amrita. Dia adalah oksigen yang membuat aku masih bisa bernafas dan  menyadari indahnya hidup ini.”
Rara tetap memunggunginya, dia takut memperlihatkan matanya yang menyimpan sesuatu.
“Bagaimana menurutmu?”
Rara tak mengeluarkan kata-kata. Mengusap kedua matanya yang berkaca-kaca, dan berbalik.
“Mari tidur sayang.” jawab Rara sembari memeluk suaminya.


Penulis: Nanda Sayogi

Sebuah Cerpen Untuk Cinta (1)



Dia mengusap pipi gadis itu dengan lembut dan manja, menikmati sensasi yang mengalir dari telunjuk dan menjalar ke seluruh tubuh. Dia melakukannya dengan sepenuh hati, sepenuh cinta yang dia punya. Membuat gadis itu ikut merasakan gelombang yang sama, dan sekejap dia memeluk lelakinya, mendekapnya  penuh cinta. Malam yang dingin menjadi lebih hangat karena khasiat nyata dari cinta.
Ari tersentak. Kaget melihat sepasang tangan melingkar di perutnya dan pipi lembut menyentuh pipinya. Segera ia menoleh ke sosok yang datang tiba-tiba. Betapa kaget dia melihat Risty. Gadis yang baru dilamunkan, yang tadinya hanya ilusi, kini benar-benar nyata hadir di depannya. Ari tak bisa bicara, tak melakukan apa-apa, hanya memandanginya. Perasaan bahagia ternyata telah membuatnya menjadi patung es yang segera meleleh.
Risty tersenyum melihat ekspresi Ari, tanpa suara ia menarik tangan cinta pertamanya itu menuju suatu tempat.
 Sekarang mereka berdua berada di sebuah ruangan, kosong, sepi. Risty duduk di sebelah kiri Ari. Mereka duduk di sofa. Tangan kanan Risty meremas erat-erat tangan kiri lelaki gantengnya. Meluapkan kerinduan yang selama ini ditahan. Tapi  bibir mereka masih saja sebeku suhu ruangan itu, seolah mereka bicara tentang cinta dan kerinduan hanya melalui tatapan mata, serta senyuman yang merona berwarna merah semerah cinta.
Lampu mendadak mati. Layar mendapat pantulan sinar dar proyektor. Tertera film berjudul Our Memory. Mereka saling memandang ketika tulisan di layar menampilkan sebuah film karya “Hati”. Sebuah kisah dari kepingan-kepingan masa lalu.
Film itu menceritakan kisah mereka. Kisah bahagia. Ketika mereka berdua larut dalam suasana cinta yang masih murni. Cinta yang suci seperti air hujan, kalau jatuh ke selokan yang kotor maka kesuciannya pun hilang, jika ia jatuh ke tanah yang tandus kesuciannya tak berarti apa-apa, jika  jatuh ke tanah yang subur dia dapat menghidupi tanaman-tanaman yang tumbuh disitu, jika ia jatuh ke kolam yang jernih dia akan mensucikan orang-orang yang mandi di kolam itu.
Cinta itu jatuh di kolam yang jernih, kolam yang belum terkontaminasi limbah dunia, limbah hasrat, limbah nafsu, limbah kebencian, limbah kecemasan, limbah kesedihan, dan limbah yang tidak bertanggung jawab. Mereka masih mandi di kolam itu, kolam yang jernih, kolam yg polos, kolam yang lugu.
Film terus menceritakan kisah masa lalu mereka. Masa lalu diputar kembali, menyegarkan cinta lama yang sudah lesuh oleh waktu, oleh mata yang tak pernah bertatap dan mulut yang tak pernah bersapa.
Film masih terus berlangsung. Amrita berdiri di belakang mereka menyaksikan mereka berdua dan film itu. Posisinya memang agak jauh, tapi cukup jelas untuk melihat kemesaraan yang terpampang di layar maupun di sofa. Dia menangis, dan hanya menangis.
Mendadak layar mati, film tak selesai. Gelap sesaat sebelum lampu kembali hidup, tapi Risty sudah tidak ada disamping Ari. Dia mencari ke seluruh ruangan bioskop tapi tak ada jejak Risty sama sekali. Sewaktu ingin keluar untuk mencari Risty, hapenya berdering.
Ari terjaga. Tersadar akan semua yang baru dialaminya. Tapi pesan singkat ini nyata. Sebuah pesan singkat dari Amrita, “Dasar sialan... kau  anggap apa aku selama ini.”
Dia bingung setengah mati. Salah apa dia. Apa Amrita tau dia sedang memimpikan masa lalunya. Ah tidak mungkin, gumamnya. Dia melihat jam di dinding ruang kerjanya. Jam 12 malam. Buru-buru dia bergegas untuk pulang.
Ari tiba di rumah, disambut tangisan amrita. Bingung mencari tau apa salahnya, selama ini dia selalu berusaha membuatnya bahagia, menyulamkan sweater dari benang-benang di jantungnya supaya Amrita hidup bersamanya. Dia tidak ingin kehilangan perempuan itu seperti dia kehilangan Risty. Dia tidak ingin melakukan kesalahan yang sama.
Ari mencoba bertanya kenapa ia menangis. Bukan jawaban, Amrita malah menjadi marah. Nadanya tinggi.
“Kau bertanya? Seharusnya aku yang bertanya,  kau anggap apa aku selama ini? Kenapa  kau masih menyimpan foto-foto mantan pacarmu itu?” untuk pertama kalinya Amrita menggunakan kata “kau” kepada Ari.
Ya Tuhan... ternyata itu penyebabnya. Seharusnya tak ada foto-foto itu di dalam rumah ini. gumam Ari dalam hati.
“Kenapa kau diam? Apa artiku di hidupmu?” kemarahan Amrita semakin memuncak.
“Menjagaku? Menyayangiku? Kau bilang kita harus selalu merawatnya, menyirami pohon cinta ini biar tetap mekar, tetap tumbuh sehat. Tapi ternyata kau malah memberi racun. Dan kini dia sekarat”
“Kau boleh menyimpan masa lalumu, tapi cukup di hatimu saja. Jangan kau simpan di mataku.”
Ari hanya diam. Tak berdaya.
Amrita pergi meninggalkannya ke kamar tidur, menutup pintu hatinya, menguncinya sampai amarahnya meredah. Tidak tau kapan harus di buka untuk menerima maaf dari pria yang tak menghargainya.

(Bersambung ke Sebuah Cerpen Untuk Cinta 2)


Penulis: Nanda Sayogi



Thursday, September 1, 2011

Skandal Cinta Sekutub


Penulis: Titan Amaliani dan Nanda Yogisvara

Kau merasa kau normal.
“Memang belum sepenuhnya. Aku hanya ingin menjalani kehidupan yang normal. Kubiarkan batinku menderita demi kehidupan yang layak, yang tidak di tentang agamaku, kedua orang tuaku, ataupun lingkunganku.”
Kalau begitu kau telah membohongi dirimu.
“Entahlah… tapi kutau aku bahagia selama ini.”
Bahagia? Hei... lihat apa yang telah di lakukannya. Dia telah menyia-nyiakanmu. Apakah itu yang di sebut bahagia?
Praaak…cermin itu pun pecah di hantam sebuah kepalan tangan.
“Kau tak akan mengerti.” Bentak seorang wanita kepada bayangannya di cermin.
Kemudian dia melemparkan tubuhnya ke atas kasur, membiarkan hatinya mencabuti serpihan-serpihan kaca yang di taburi suaminya.
Kau benar-benar keparat. Aku rela merubah jalan hidupku yang dulu sangat kunikmati, tapi ternyata kau malah selingkuh dengan lelaki itu. pantas saja kau lebih bernafsu ketika aku dulu masih berdandan seperti lelaki… gumam wanita itu di dalam hati.
*****
“Kau mencintainya?”
Andre hanya diam tak menjawab pertanyaan Deni. Dia hanya duduk menghadap cermin, melihati potret dirinya yang lusuh.
“Tolong jawab pertanyaanku.” suara Deni sedikit mengeras.
“Tapi aku tidak tau.”
“Aku sangat mencintaimu ndre.”
Andre hanya memandang Deni dari cermin kemudian kembali memandangi dirinya sendiri sambil memain-mainkan gunting.
“Andree…” Deni menghampiri Andre yang duduk di depan meja rias. Kemudian dia memeluknya.
“Lepaskan tanganmu den. Sekarang apa maksud kamu membawa aku ke apartemenmu ini?”
“Menghiburmu.” Jawab Deni sambil melepaskan pelukannya.
*****
Apa yang harus kulakukan. Aku tak pernah ingin terlahir dengan keadaan ini. Aku lelah membohongi diri ku sendiri. Tuhan salahkah aku? Aku bukan tidak menerima fitrahku, tapi siapa yang bisa menghindar dari kelainan susunan gen yang kau berikan padaku. Apakah aku harus melawan pemberianmu ini? Tapi bagaimna caranya Tuhan? Bukankah seharusnya kita harus bersyukur terhadap apa yang telah Kau beri?
Wawan duduk di sebuah kursi di taman malam. Malam ini dia ingin sendiri, meresapi, dan mengintropeksi diri. Wawan meminum teh botolnya dan kembali menatap langit hitam, mencurahkan isi hatinya.
Apakah aku terlalu egois? Bagaimana dengan lira yang selama ini telah setia menemaniku, merawatku, dan melayaniku. Dia sendiri akhirnya mampu menjadi wanita seutuhnya yang cantik, tulen, dan istri yang patuh kepada suami. Awalnya mungkin dia tidak mencintaiku karena dia lebih menyukai sejenisnya, tapi siapa sangka dia telah menjadi seorang ibu yang nyaris sempurna. Dia tak pernah lelah dan mengelu menjalani kehidupannya sebagai ibu rumah tangga, Kenapa aku tega mengkhianatinya? Sesungguhnya aku tak pernah menyesali perjodohan ini. Tapi…ah entahla.
Wawan mengambil handphone dari sakunya. Membaca ulang sms-sms dari andre, pacarnya. Dia tersenyum-senyum sendiri, membuat iri langit hitam yang frontal menatapnya dari atas. Dia sangat mencintai andre. Tak ada yang lebih di cintainya selain Andre.
Wawan bangkit dari bangku taman. Dia berjalan menikmati sejuknya udara malam, menelan keindahahn city light kedalam matanya, menyusuri sudut-sudut kota denagn kedua kakinya. Namun tak sengaja ia melihat sepasang suami istri sedang membawa bayi mungil keluar dari minimart. Betapa bahagia mereka. Dia kembali teringat Lira yang telah di buangnya begitu saja dari dinding matanya..
Bagaimana keadaannya sekarang setelah dia memergoki perselingkuhanku? Bukan mengejarnya, tapi aku malah memaksanya meminum pil pahit ini, tak mempedulikan muntahannya yang berceceran di wajahku dan andre, dan mengikhlaskan dia yang meninggalkan kami dengan mencuri luka yang belum resmi kami hadiahkan buatnya. Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan. Lira begitu baik selama ini. Mengapa aku membalasnya dengan lemparan pisau tepat disenyumnya yang manis? Tapi aku juga tak bisa jika harus mengakhiri hubungan dengan Andre. Tuhan, bagaimana bisa aku menyakiti Andre, bagaimana caranya agar aku bisa meninggalkan Lira dan peri kecil kami.
Sementara gerimis mulai menyerbunya dengan butiran halusnya. Bintang-bintang mulai muak memberikan pemandangan indahnya kepada wawan. Pria itu tidak memilih untuk bersembunyi, dia menantang alam untuk bersahabat dengannya.
Ah Lira… pasti dia menangis, mahluk lemah itu, kini semakin lemah. Tak ada kekuatan lagi dalam dirinya seperti dahulu.
Dia perempuan terkuat yang mampu melemahkanmu, dia perempuan terindah yang mampu mengindahkanmu. Dia perempuan terbaik yang mampu membaikkanmu dengan segala kelemahanya, Sayangi dia sebagaimana aku menyayangimu.
Kata-kata ibunya yang mencalonkan Lira padanya terngiang lembut dipikirannya. Dan ia ingat semua saat-saat lira ada untuknya, melayaninya dengan penuh cinta, dan kehangatan yang seperti sungai yang tidak pernah kering.
“Aku menyayanginya !” wawan berteriak.
Wawan bergegas pulang. Menemui Lira untuk sesegera mungkin meminta maaf. Hanya satu hal yang diharapkannya, kata maaf dari Lira atas pengkhianatannya, atas ketidaksempurnaannya. Meski dalam pikirannya masih terbanyang wajah Andre, sentuhan Andre, dan semua kisah romentismenya bersama Andre. Ia tepis semua itu demi membayangkan kebahagiaan Lira. Wawan pun mendapat pencerahan dari angin-angin yang melintas halus ditelinganya, bahwa tulang rusuknya yang hilang tak mungkin adalah Andre, karena tulang rusuk Andre pasti juga ada didalam tubuh makhluk ciptaan Tuhan paling indah. Wawan ingin kembali pada tulang rusuknya yang hilang.
Pintu tidak dikunci hanya pintu kamar yang tertutup dengan suara shower yang menyala. Wawan memasuki kamar. Kosong. Cermin di meja hias pecah berantakan. Pintu kamar mandi terbuka. Tak ada suara Lira yang selalu bernyanyi setiap mandi. Wawan memberanikan diri masuk kamar mandi.
Hkh… nafasnya tercekat melihat Lira tanpa rambut panjangnya lagi, Lira menjelma kembali menjadi Lira berambut plontos yang kini penuh pernak-pernik luka dikepala, dengan tubuh penuh goresan, tertidur lemah dibawah shower. Air yang mengalir ke lubang pembuangan air tak lagi beraroma sabun seperti favorit Lira, tak lagi berbusa. Hanya bau amis yang tercium. Bercak darah dimana mana.
Wawan, memeluk Lira yang lemah.
“Wan…” ucapnya lemah sambil tersenyum.
“Apa yang kamu lakukan?” ucap wawan. Mengangkat Lira ke tempat tidur. Membersihkan semua luka Lira.
***
Andre, maaf hubungan kita harus sampai disini, gue gk bisa ninggalin Lira, gue syg dia.
Sender : [08***********] Honey
Andre terdiam mulai terisak…
Semudah itu kau berpaling hanya karena dia pilihan ibumu. Hanya karena dia wanita lemah. Begitu mudah kau hancurkan semua mimpi kita. Cintaku
Andre terisak.
“Ndre, kamu kenapa?” Tanya Deni merangkulnya.
Andre melepaskan rangkulan Deni.
“Ndre cerita sama aku.”
Andre masih bungkam.
Deni mempererat pelukannya, menciumi aroma tubuh Andre. Akhirnya Andre luluh. deni kemudian mengajak andre bercinta. Andre pun menyambutnya. Mereka sudah benar-benar tanpa sekat yang menghalangi hangatnya kulit-kulit mereka ketika bersentuhan. Deni melumat manja bibir andre, andre pun membalasnya dengan tak kalah lembut.
Deni mendesah pilu… sebuah gunting tertancap manis di perutnya yang tipis. Mengalirkan darah ke sekujur tubuh andre. Andre terlihat belum puas. Dia membalikkan tubuh deni, dan kembali menghujani perut deni dengan tarian setan menembus dinding perut deni berulang-ulang.
“Sampai bertemu di surga. Aku tak mau dikhianati lagi.” Ucap andre dengan nafas tersengal-sengal. Andre pun menjemput deni dengan melakukan tarian yang sama ke perutnya.

Friday, August 26, 2011

Darah Muda Berdarah

Penulis : mr Svara



Hari minggu itu kami harus membatalkan perjalanan ke Berastagi yang sudah direncanakan, karena baru saja Cahaya menelpon, memberitahu kalau ibu masuk rumah sakit. Aku pun meninggalkan Kleo di kamar kostku, dan buru-buru pulang untuk melihat kondisi  wanita yang paling kusayangi itu.
Hanya saat bersama Kleo lah aku bisa merasakan hangatnya sinar mentari menyentuh kulitku, mata pun di suguhi indahnya lukisan alam dimana awan-awan berserakan di langit biru. Pemilik bibir Dian Sastro kw 1 ini selalu tidur bersamaku disabtu malam, bersiap menyambut hari minggu untuk menikmati keindahan alam. Dimulai dari mentari menampakkan dirinya sampai ia bersembunyi kembali.
Berbeda saat aku bersama seorang sahabatku. Kami  selalu menghias malam yang hitam dengan beraneka warna kegiatan, main biliar, futsal, nongkrong di cafe, karaokean, dugem, main kartu, atau apapun yang membuat hari kami seperti musik rock yang penuh dentuman, menyentak-nyentak dan memecahkan perputaran waktu sampai tidak terasa matahari sudah menegur kami, dan mengatakan saatnya kalelawar tidur.
Namun keduanya tetap indah di hatiku. Baik bersama sahabat ataupun pacar. Mereka hadir menulis cerita-cerita di lembaran masa mudaku, membuat kertas kehidupanku tidak kosong. Sebuah kisah yang bisa dibanggakan kepada dunia, kalau hidupku tidak hanya berwarna hitam dan putih, tetapi seperti warna pelangi yang semua orang menantinya.
Kami bertiga seperti sepakat kalau masa muda yang singkat ini terlalu sayang jika di jalani dengan kehidupan  yang monoton. Masa muda adalah sebuah kilat yang bergerak menyinari bumi dengan kecepatan 150.000  km/detik. Betapa cepat dan singkat, jadi masa ini haruslah dijalani dengan berbagai macam hal yang menarik, dan  mencoba hal-hal baru yang menantang.
Setelah tiga jam perjalanan darat dari kota Medan – karena hanya jalur itu yang tersedia, akhirnya aku sampai di kota Pematang Siantar. Sebuah kota idaman. Kota yang  Indah, damai, aman, dan nyaman yang kali ini tidak memberi kesan seperti itu kepadaku karena suasana hati yang gusar dan cemas tentang kondisi kesehatan perempuan yang melahirkanku. Ku parkirkan sepeda motorku di halaman parkir rumah sakit Horas Insani.
Pintu flamboyan no.14  kubuka, kulihat ibu berbaring lemah dengan jarum infus mengepit ujung telunjuknya. Kulihat Cahaya dengan setia menemani dan merawat ibu. Dia adalah anak dari adiknya ibu. Anak manis itu sudah bersama kami selama sepuluh tahun sejak ayah ibunya tewas dalam kecelakaan lalu lintas, ketika itu dia masih berumur empat tahun. Kulihat juga ayah yang duduk kaku di kursi roda. Stroke menyerangnya sekitar lima tahun yang lalu, ia tidak kuat menerima kenyataan bahwa perusahaan yang dirintisnya dari nol sampai menjadi perusahaan yang cukup sukses di kotaku kini berada ditangan adiknya lewat cara curang – selama ini ibu lah yang menghidupi kami, ia bekerja sebagai karyawan disebuah Bank Swasta. Kulihat sorot mata ayah menatap cinta sejatinya, mata yang berkaca-kaca itu seolah berbicara tentang kesedihan, tentang keinginannya untuk melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukannya, bahkan untuk sekedar membelai rambut istrinya. Aku menghampiri ayah, mengecup kening, dan memeluknya. Kini kilatan kaca di matanya berubah menjadi titik-titk air  dan menetes ke pipinya. Sekali lagi matanya berbicara, berbicara tentang kerinduan dan harapannya padaku.
“Kata dokter ibu hanya terlalu capek dan banyak pikiran bang, dan sekarang ibu lagi tidur.” Cahaya menjelaskan tentang kondisi ibu.
Ku tarik nafas dalam-dalam, mencoba menetralisir rasa takutku. “Ayak dan ayah sekarang pulang saja, pasti kalian lelah. Kita gantian, sekarang biar abang yang jagain ibu.”
Ku pandangi wajah pucat dari seorang wanita yang penuh cinta, dedikasi, dan kesetiaan terhadap keluaraga, suami, dan anaknya. Dia bukan hanya seorang ibu bagi kami, tapi dia adalah peri yang kecantikkan hatinya tak pernah luntur meski dia turun ke bumi yang kotor ini, dan dengan tongkat saktinya dia selalu berusaha memberikan kami energi, meski sekali kayuhan tongkat itu telah menguras energinya sendiri.
 Aku tertidur di kursi dengan kepala merebah di samping ibu sebelum merasakan rambutku dibelai lembut sekali, akupun terjaga dan melihat ibu sudah bangun.
“Anak ibu apa kabar?” dia masih bisa menanyakan kabarku dalam kabarnya yang tidak baik, dia pun tetap menyunggingkan senyum keibuannya.
“Lagi gak sehatlah... orang ibu juga lagi gak sehat.” Jawabku.
“Ibu hanya ingin datang ke acara wisudamu nak.” Ucap ibu lirih.
Ibu maafkan langkah liarku yang keluar dari lingkaran harapanmu. Lingkaran yang kubuat sendiri  yang ternyata telah melukis kegelisahan di hatimu. Kulihat wajahnya kini dipenuhi guratan-guratan penuaan, dia tampak lebih tua dari usianya. Aku sadar akulah yang menggores-gores wajah itu hingga timbul banyak guratan.
“Ayahmu juga berharap demikian. Bahkan lebih dari itu ketika dia menamaimu Bintang.” Dia menarik nafas, menatapku tajam, tetapi tetap hangat , “ Kamu anak kami satu-satunya, jika ibu pergi besok ataupun lebih cepat, apa kamu sudah siap?”
Butiran-butiran air mata menyembul di sudut mataku, merembes ke permukaan pipi. Aku telah menari dalam derita mereka,  memberi kado kegagalan, membunuh sebuah harapan besar. Aku yang di siapkan menjadi orang yang dapat menaikkan kembali derajat dan martabat keluarga malah menjadi batu yang membebani mereka. Akupun berjanji pada ibu untuk menyelesaikan kuliah di tahun ketujuh ini.
Aku kembali ke kota medan untuk menunaikan janjiku pada ibu. Lama tidak kuliah membuat saraf-saraf  kepala menegang karena tidak siap menerima materi-materi yang seberat gajah. Setelah selesai kelas akupun pergi ke warnet mengambil paket tiga jam untuk bermain game online.
Tiga jam berlalu, aku merasa lega karena saraf-saraf ini sudah kembali ringan, aku menuju operator untuk membayarnya. Sambil menunggu operator yang sedang menghitung uang kembalianku, aku keluar untuk mengecek keberadaan sepeda motorku, karena sudah sering terjadi curanmor di warnet.
Jantungku berdegup kencang. Mendadak seluruh persendianku melemas. Aku terduduk meraba-raba lantai bekas motor yang kuparkirkan kini sudah tidak berbekas. “Bang keretaku mana bang?” Kereta adalah sebutan untuk sepeda motor di sebagian besar wilayah di sumatera utara. Mendegar teriakanku se-isi warnet pun keluar. Tapi mereka tak cukup menolong, hanya bisa berbagi panik dan simpati.
Aku coba menelepon Kleo, tapi nomornya tidak aktif. Aku sangat membutuhkannya untuk menenangkanku dan memberi masukan. Rumah Kleo tidak jauh dari sini, akupun melangkah menuju rumahnya.
Lega melihat ada honda scoopy terparkir di garasi rumahnya. Itu tandanya Kleo ada di rumah. Setelah mengetuk pintu berkali-kali tapi tidak ada jawaban, aku masuk saja menuju kamarnya. Aku terbisa begini jika tidak ada yang merespon salamku, yang artinya papa mama Kleo sedang ke luar kota, dan Kleo sedang tidur di kamarnya.
Aku selalu tersenyum melihat pintu kamar Kleo yang di tempeli poster  film Titanic bergambar Jack Dawson dan Rose De Witt Bukater yang sedang berciuman. Tapi senyumanku mendadak lenyap ketika pintu ku buka. Petir kembali menyambarku untuk kedua kalinya di siang yang gerah ini. Aku tak percaya melihat apa yang ada di depan mataku. Dua makhluk keparat tanpa sehelai benang sedang bercumbu ria.
Mereka berdua terkejut melihat aku yang tiba-tiba berdiri di depan kamar dan memergoki pengkhianatan itu. Segera saja mereka buru-buru menutupi tubuhnya. Ku hampiri Yuda untuk mematahkan batang hidungnya dengan kepalan tangan yang sudah kusiapkan. Tapi aku teringat akan nasihat ibu kemarin untuk berhenti melakukan hal yang tidak perlu. Akupun mengganti kepalan tangan yang telah kusiapkan tadi  menjadi salam jari tengah ke wajah Yuda. Setidaknya itu tidak lebih buruk daripada aku harus mendekam di balik  jeruji besi. Kemudian aku keluar dari kamar  tanpa menoleh ke arah Kleo. Kudengar Kleo menangis memanggil dan mencoba mengejarku, tapi kesalahannya yang fatal mengalahkan keberaniannya.
Aku berjalan melewati jalan-jalan yang berdebu. Siang ini memang panas sekali. Tapi bukan debu yang membuat nafasku sesak, bukan pula panasnya cuaca yang membakar seluruh inci tubuhku, melainkan rentetan kejadian yang kualami. Ibu yang sakit karena ulahku, motor yang hilang, pacar yang selingkuh, sahabat yang berkhianat, membuat aku menjadi makhluk paling lemah karena darahku habis dihisap drakula yang kuciptakan sendiri.
Kakiku tidak sanggup berjalan lebih jauh lagi. Aku berhenti dan duduk di depan warung yang tutup. Hati ini masih tidak menyangka mereka berdua tega melakukan itu. Semua  warna yang mereka sajikan ternyata  hanya hitam yang menjelma menjadi pelangi. Dua orang yang paling kubanggakan itu ternyata memberi jus yang berisi racun, menghancurkan semua organ dalam tubuhku di saat aku menikmati manisnya  keberadaan mereka. Kutarik nafas dalam-dalam, mencoba menetralisir darah yang mendidih ini agar tidak keluar dari pori-pori kepalaku. Kurunut rentetan kejadian yang menimpaku.  Kini aku teringat sebuah pepatah yang selalu kutentang. Sebuah nasihat orang melayu tentang kehidupan yang kudengar dari ibu, Jalanilah hidup ini lurus-lurus saja, tidak perlu macam-macam.