Friday, August 26, 2011

Darah Muda Berdarah

Penulis : mr Svara



Hari minggu itu kami harus membatalkan perjalanan ke Berastagi yang sudah direncanakan, karena baru saja Cahaya menelpon, memberitahu kalau ibu masuk rumah sakit. Aku pun meninggalkan Kleo di kamar kostku, dan buru-buru pulang untuk melihat kondisi  wanita yang paling kusayangi itu.
Hanya saat bersama Kleo lah aku bisa merasakan hangatnya sinar mentari menyentuh kulitku, mata pun di suguhi indahnya lukisan alam dimana awan-awan berserakan di langit biru. Pemilik bibir Dian Sastro kw 1 ini selalu tidur bersamaku disabtu malam, bersiap menyambut hari minggu untuk menikmati keindahan alam. Dimulai dari mentari menampakkan dirinya sampai ia bersembunyi kembali.
Berbeda saat aku bersama seorang sahabatku. Kami  selalu menghias malam yang hitam dengan beraneka warna kegiatan, main biliar, futsal, nongkrong di cafe, karaokean, dugem, main kartu, atau apapun yang membuat hari kami seperti musik rock yang penuh dentuman, menyentak-nyentak dan memecahkan perputaran waktu sampai tidak terasa matahari sudah menegur kami, dan mengatakan saatnya kalelawar tidur.
Namun keduanya tetap indah di hatiku. Baik bersama sahabat ataupun pacar. Mereka hadir menulis cerita-cerita di lembaran masa mudaku, membuat kertas kehidupanku tidak kosong. Sebuah kisah yang bisa dibanggakan kepada dunia, kalau hidupku tidak hanya berwarna hitam dan putih, tetapi seperti warna pelangi yang semua orang menantinya.
Kami bertiga seperti sepakat kalau masa muda yang singkat ini terlalu sayang jika di jalani dengan kehidupan  yang monoton. Masa muda adalah sebuah kilat yang bergerak menyinari bumi dengan kecepatan 150.000  km/detik. Betapa cepat dan singkat, jadi masa ini haruslah dijalani dengan berbagai macam hal yang menarik, dan  mencoba hal-hal baru yang menantang.
Setelah tiga jam perjalanan darat dari kota Medan – karena hanya jalur itu yang tersedia, akhirnya aku sampai di kota Pematang Siantar. Sebuah kota idaman. Kota yang  Indah, damai, aman, dan nyaman yang kali ini tidak memberi kesan seperti itu kepadaku karena suasana hati yang gusar dan cemas tentang kondisi kesehatan perempuan yang melahirkanku. Ku parkirkan sepeda motorku di halaman parkir rumah sakit Horas Insani.
Pintu flamboyan no.14  kubuka, kulihat ibu berbaring lemah dengan jarum infus mengepit ujung telunjuknya. Kulihat Cahaya dengan setia menemani dan merawat ibu. Dia adalah anak dari adiknya ibu. Anak manis itu sudah bersama kami selama sepuluh tahun sejak ayah ibunya tewas dalam kecelakaan lalu lintas, ketika itu dia masih berumur empat tahun. Kulihat juga ayah yang duduk kaku di kursi roda. Stroke menyerangnya sekitar lima tahun yang lalu, ia tidak kuat menerima kenyataan bahwa perusahaan yang dirintisnya dari nol sampai menjadi perusahaan yang cukup sukses di kotaku kini berada ditangan adiknya lewat cara curang – selama ini ibu lah yang menghidupi kami, ia bekerja sebagai karyawan disebuah Bank Swasta. Kulihat sorot mata ayah menatap cinta sejatinya, mata yang berkaca-kaca itu seolah berbicara tentang kesedihan, tentang keinginannya untuk melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukannya, bahkan untuk sekedar membelai rambut istrinya. Aku menghampiri ayah, mengecup kening, dan memeluknya. Kini kilatan kaca di matanya berubah menjadi titik-titk air  dan menetes ke pipinya. Sekali lagi matanya berbicara, berbicara tentang kerinduan dan harapannya padaku.
“Kata dokter ibu hanya terlalu capek dan banyak pikiran bang, dan sekarang ibu lagi tidur.” Cahaya menjelaskan tentang kondisi ibu.
Ku tarik nafas dalam-dalam, mencoba menetralisir rasa takutku. “Ayak dan ayah sekarang pulang saja, pasti kalian lelah. Kita gantian, sekarang biar abang yang jagain ibu.”
Ku pandangi wajah pucat dari seorang wanita yang penuh cinta, dedikasi, dan kesetiaan terhadap keluaraga, suami, dan anaknya. Dia bukan hanya seorang ibu bagi kami, tapi dia adalah peri yang kecantikkan hatinya tak pernah luntur meski dia turun ke bumi yang kotor ini, dan dengan tongkat saktinya dia selalu berusaha memberikan kami energi, meski sekali kayuhan tongkat itu telah menguras energinya sendiri.
 Aku tertidur di kursi dengan kepala merebah di samping ibu sebelum merasakan rambutku dibelai lembut sekali, akupun terjaga dan melihat ibu sudah bangun.
“Anak ibu apa kabar?” dia masih bisa menanyakan kabarku dalam kabarnya yang tidak baik, dia pun tetap menyunggingkan senyum keibuannya.
“Lagi gak sehatlah... orang ibu juga lagi gak sehat.” Jawabku.
“Ibu hanya ingin datang ke acara wisudamu nak.” Ucap ibu lirih.
Ibu maafkan langkah liarku yang keluar dari lingkaran harapanmu. Lingkaran yang kubuat sendiri  yang ternyata telah melukis kegelisahan di hatimu. Kulihat wajahnya kini dipenuhi guratan-guratan penuaan, dia tampak lebih tua dari usianya. Aku sadar akulah yang menggores-gores wajah itu hingga timbul banyak guratan.
“Ayahmu juga berharap demikian. Bahkan lebih dari itu ketika dia menamaimu Bintang.” Dia menarik nafas, menatapku tajam, tetapi tetap hangat , “ Kamu anak kami satu-satunya, jika ibu pergi besok ataupun lebih cepat, apa kamu sudah siap?”
Butiran-butiran air mata menyembul di sudut mataku, merembes ke permukaan pipi. Aku telah menari dalam derita mereka,  memberi kado kegagalan, membunuh sebuah harapan besar. Aku yang di siapkan menjadi orang yang dapat menaikkan kembali derajat dan martabat keluarga malah menjadi batu yang membebani mereka. Akupun berjanji pada ibu untuk menyelesaikan kuliah di tahun ketujuh ini.
Aku kembali ke kota medan untuk menunaikan janjiku pada ibu. Lama tidak kuliah membuat saraf-saraf  kepala menegang karena tidak siap menerima materi-materi yang seberat gajah. Setelah selesai kelas akupun pergi ke warnet mengambil paket tiga jam untuk bermain game online.
Tiga jam berlalu, aku merasa lega karena saraf-saraf ini sudah kembali ringan, aku menuju operator untuk membayarnya. Sambil menunggu operator yang sedang menghitung uang kembalianku, aku keluar untuk mengecek keberadaan sepeda motorku, karena sudah sering terjadi curanmor di warnet.
Jantungku berdegup kencang. Mendadak seluruh persendianku melemas. Aku terduduk meraba-raba lantai bekas motor yang kuparkirkan kini sudah tidak berbekas. “Bang keretaku mana bang?” Kereta adalah sebutan untuk sepeda motor di sebagian besar wilayah di sumatera utara. Mendegar teriakanku se-isi warnet pun keluar. Tapi mereka tak cukup menolong, hanya bisa berbagi panik dan simpati.
Aku coba menelepon Kleo, tapi nomornya tidak aktif. Aku sangat membutuhkannya untuk menenangkanku dan memberi masukan. Rumah Kleo tidak jauh dari sini, akupun melangkah menuju rumahnya.
Lega melihat ada honda scoopy terparkir di garasi rumahnya. Itu tandanya Kleo ada di rumah. Setelah mengetuk pintu berkali-kali tapi tidak ada jawaban, aku masuk saja menuju kamarnya. Aku terbisa begini jika tidak ada yang merespon salamku, yang artinya papa mama Kleo sedang ke luar kota, dan Kleo sedang tidur di kamarnya.
Aku selalu tersenyum melihat pintu kamar Kleo yang di tempeli poster  film Titanic bergambar Jack Dawson dan Rose De Witt Bukater yang sedang berciuman. Tapi senyumanku mendadak lenyap ketika pintu ku buka. Petir kembali menyambarku untuk kedua kalinya di siang yang gerah ini. Aku tak percaya melihat apa yang ada di depan mataku. Dua makhluk keparat tanpa sehelai benang sedang bercumbu ria.
Mereka berdua terkejut melihat aku yang tiba-tiba berdiri di depan kamar dan memergoki pengkhianatan itu. Segera saja mereka buru-buru menutupi tubuhnya. Ku hampiri Yuda untuk mematahkan batang hidungnya dengan kepalan tangan yang sudah kusiapkan. Tapi aku teringat akan nasihat ibu kemarin untuk berhenti melakukan hal yang tidak perlu. Akupun mengganti kepalan tangan yang telah kusiapkan tadi  menjadi salam jari tengah ke wajah Yuda. Setidaknya itu tidak lebih buruk daripada aku harus mendekam di balik  jeruji besi. Kemudian aku keluar dari kamar  tanpa menoleh ke arah Kleo. Kudengar Kleo menangis memanggil dan mencoba mengejarku, tapi kesalahannya yang fatal mengalahkan keberaniannya.
Aku berjalan melewati jalan-jalan yang berdebu. Siang ini memang panas sekali. Tapi bukan debu yang membuat nafasku sesak, bukan pula panasnya cuaca yang membakar seluruh inci tubuhku, melainkan rentetan kejadian yang kualami. Ibu yang sakit karena ulahku, motor yang hilang, pacar yang selingkuh, sahabat yang berkhianat, membuat aku menjadi makhluk paling lemah karena darahku habis dihisap drakula yang kuciptakan sendiri.
Kakiku tidak sanggup berjalan lebih jauh lagi. Aku berhenti dan duduk di depan warung yang tutup. Hati ini masih tidak menyangka mereka berdua tega melakukan itu. Semua  warna yang mereka sajikan ternyata  hanya hitam yang menjelma menjadi pelangi. Dua orang yang paling kubanggakan itu ternyata memberi jus yang berisi racun, menghancurkan semua organ dalam tubuhku di saat aku menikmati manisnya  keberadaan mereka. Kutarik nafas dalam-dalam, mencoba menetralisir darah yang mendidih ini agar tidak keluar dari pori-pori kepalaku. Kurunut rentetan kejadian yang menimpaku.  Kini aku teringat sebuah pepatah yang selalu kutentang. Sebuah nasihat orang melayu tentang kehidupan yang kudengar dari ibu, Jalanilah hidup ini lurus-lurus saja, tidak perlu macam-macam.







No comments:

Post a Comment