Amrita pergi meninggalkannya ke kamar tidur, menutup pintu hatinya,
menguncinya sampai amarahnya meredah. Tidak tau kapan harus di buka untuk
menerima maaf dari pria yang tak menghargainya.
Ari terduduk di sofa di ruang keluarga, menyadari kesalahan besarnya.
Beberapa paragraf lagi aku selesai mengetik. Ku seruput kopiku yang tak
lagi hangat. Sebuah tulisan yang kupersembahkan buat orang yang hadir di
hidupku. Aku tidak mencintai mereka seperti sekuntum bunga yang biasa diberikan
orang-orang untuk mengucapkan sesuatu, karena bunga itu pasti akan layu. Aku
mencintai mereka seperti bunga hidup, ku tanam dan ku rawat agar tetap hidup di
hatiku.
Akhirnya selesai. Hanya dengan menulis fiksi aku bisa menitipkan sesuatu,
yang tak akan ku munculkan di dalam rumah ini.
Jam mungil diatas meja kerja menunujukkan jam dua dini hari. Aku bangkit
menuju dapur untuk mengambil air putih. Ayunina tertidur di atas kursi malas di ruang tv dengan tv yang
masih menyala, meyiarkan berita yang itu-itu saja, membahas soal kebijakan
Presiden yang tidak populer. Tampaknya Pak Presiden mulai kehilangan cinta
rakyatnya. Dia habis-habisan dikritik oleh pengamat, dan di bully oleh netizen di media sosial.
Aku kembali teringat cinta masa laluku, saat itu aku sangat membencinya,
marah, dan pergi meninggalkannya. Tapi kini aku merindu, setelah tidak tahu
lagi kabar tentang nya. Begitu juga dengan sang presiden ini pikirku, rakyat
pasti akan merindukannya nanti, setelah dia tidak lagi terdengar, tak lagi
terlihat.
Ayunina masih tertidur, mungkin lelah meyaksikan Presiden yang kehilangan
cinta. Aku menggendongnya ke kamar tidur. Menyelimutinya. Aku pandangi wajah
istriku ini. cantik sekali. Aku usap rambutnya, ku kecup keningnya, ku bisikkan
ketelinganya, kau tidak akan kehilangan cinta.
*********
“Sudah selesai pekerjaanmu sayang?”
“Sudah... kamu lagi baca apa?” Rara bertanya sambil berbaring di samping
suaminya yang sedang duduk bersanda di tempat tidur.
“Kamu yang beli koran minggu.”
“Ia aku butuh informasi destinasi wisatanya.”
“Aku lagi baca cerpen.”
“Oh ya? Tentang apa?”
“Biasa aja. Cinta. Klise.”
“Kenapa masih membaca?”
“Sudah selesai, tapi Aku tertarik beberapa kalimat dari cerpen ini. Dengar
ya! Risty meskipun beberapa kali kau
buat aku menderita. tapi Kau adalah medusa yang telah membatukan satu
ruang di hatiku, membuat namamu kekal disana.”
“Kebodohan yang indah bukan.”
“Dan menurutku dia memanfaatkan tokoh fiktifnya untuk menyampaikan sesuatu
buat seseorang di dunia nyata.”
“Kamu mau tau isi suratnya?”
“Aku
bacakan, Risty ingatkah kau kita pernah mendongeng tentang istana ratu Azura?
Yang letaknya di atas nirwana. Hanya kita yang di izinkan masuk karena alat
pendeteksi mereka menyatakan kita pecinta. Risty... apa kau lupa tentang
puisi-puisi yang kita nyanyikan di setiap malam, yang membuat hewan malam
berhenti bernyanyi, karena puisi mereka kalah indahnya. Lupakanlah semua jika
itu memang tak berarti. Aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu.” Pria itu
melirik ke arah Rara yang memunggunginya dan terus melanjutkan.
“Risty meskipun beberapa kali kau buat aku menderita. tapi Kau adalah
medusa yang telah membatukan satu ruang di hatiku, membuat namamu kekal disana.
Kini Amrita marah padaku karena aku masih menyimpanmu di matanya. Ini memang
salahku. Risty aku ingin kau berdoa untuk kebahagiaanku juga. Aku takut
kehilanngan Amrita. Dia adalah oksigen yang membuat aku masih bisa bernafas
dan menyadari indahnya hidup ini.”
Rara tetap memunggunginya, dia takut memperlihatkan matanya yang menyimpan
sesuatu.
“Bagaimana menurutmu?”
Rara tak mengeluarkan kata-kata. Mengusap kedua matanya yang berkaca-kaca,
dan berbalik.
“Mari tidur sayang.” jawab Rara sembari memeluk suaminya.
Kembali ke: Sebuah Cerpen Untuk Cinta (1)
Penulis: Nanda Sayogi
