Wednesday, April 15, 2015

Sebuah Cerpen Untuk Cinta (2)



Amrita pergi meninggalkannya ke kamar tidur, menutup pintu hatinya, menguncinya sampai amarahnya meredah. Tidak tau kapan harus di buka untuk menerima maaf dari pria yang tak menghargainya.
Ari terduduk di sofa di ruang keluarga, menyadari kesalahan besarnya.
Beberapa paragraf lagi aku selesai mengetik. Ku seruput kopiku yang tak lagi hangat. Sebuah tulisan yang kupersembahkan buat orang yang hadir di hidupku. Aku tidak mencintai mereka seperti sekuntum bunga yang biasa diberikan orang-orang untuk mengucapkan sesuatu, karena bunga itu pasti akan layu. Aku mencintai mereka seperti bunga hidup, ku tanam dan ku rawat agar tetap hidup di hatiku.
Akhirnya selesai. Hanya dengan menulis fiksi aku bisa menitipkan sesuatu, yang tak akan ku munculkan di dalam rumah ini.
Jam mungil diatas meja kerja menunujukkan jam dua dini hari. Aku bangkit menuju dapur untuk mengambil air putih. Ayunina tertidur di atas kursi malas di ruang tv dengan tv yang masih menyala, meyiarkan berita yang itu-itu saja, membahas soal kebijakan Presiden yang tidak populer. Tampaknya Pak Presiden mulai kehilangan cinta rakyatnya. Dia habis-habisan dikritik oleh pengamat, dan di bully oleh netizen di media sosial.
Aku kembali teringat cinta masa laluku, saat itu aku sangat membencinya, marah, dan pergi meninggalkannya. Tapi kini aku merindu, setelah tidak tahu lagi kabar tentang nya. Begitu juga dengan sang presiden ini pikirku, rakyat pasti akan merindukannya nanti, setelah dia tidak lagi terdengar, tak lagi terlihat.
Ayunina masih tertidur, mungkin lelah meyaksikan Presiden yang kehilangan cinta. Aku menggendongnya ke kamar tidur. Menyelimutinya. Aku pandangi wajah istriku ini. cantik sekali. Aku usap rambutnya, ku kecup keningnya, ku bisikkan ketelinganya, kau tidak akan kehilangan cinta.
*********
“Sudah selesai pekerjaanmu sayang?”
“Sudah... kamu lagi baca apa?” Rara bertanya sambil berbaring di samping suaminya yang sedang duduk bersanda di tempat tidur.
“Kamu yang beli koran minggu.”
“Ia aku butuh informasi destinasi wisatanya.”
“Aku lagi baca cerpen.”
“Oh ya? Tentang apa?”
“Biasa aja. Cinta. Klise.”
“Kenapa masih membaca?”
“Sudah selesai, tapi Aku tertarik beberapa kalimat dari cerpen ini. Dengar ya! Risty meskipun beberapa kali kau buat aku menderita. tapi  Kau adalah medusa yang telah membatukan satu ruang di hatiku, membuat namamu kekal disana.”
“Kebodohan yang indah bukan.”
“Dan menurutku dia memanfaatkan tokoh fiktifnya untuk menyampaikan sesuatu buat seseorang di dunia nyata.”
 “Kamu mau tau isi suratnya?”
Aku bacakan, Risty ingatkah kau kita pernah mendongeng tentang istana ratu Azura? Yang letaknya di atas nirwana. Hanya kita yang di izinkan masuk karena alat pendeteksi mereka menyatakan kita pecinta. Risty... apa kau lupa tentang puisi-puisi yang kita nyanyikan di setiap malam, yang membuat hewan malam berhenti bernyanyi, karena puisi mereka kalah indahnya. Lupakanlah semua jika itu memang tak berarti. Aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu.” Pria itu melirik ke arah Rara yang memunggunginya dan terus melanjutkan.
“Risty meskipun beberapa kali kau buat aku menderita. tapi  Kau adalah medusa yang telah membatukan satu ruang di hatiku, membuat namamu kekal disana. Kini Amrita marah padaku karena aku masih menyimpanmu di matanya. Ini memang salahku. Risty aku ingin kau berdoa untuk kebahagiaanku juga. Aku takut kehilanngan Amrita. Dia adalah oksigen yang membuat aku masih bisa bernafas dan  menyadari indahnya hidup ini.”
Rara tetap memunggunginya, dia takut memperlihatkan matanya yang menyimpan sesuatu.
“Bagaimana menurutmu?”
Rara tak mengeluarkan kata-kata. Mengusap kedua matanya yang berkaca-kaca, dan berbalik.
“Mari tidur sayang.” jawab Rara sembari memeluk suaminya.


Penulis: Nanda Sayogi

No comments:

Post a Comment