Thursday, September 1, 2011

Skandal Cinta Sekutub


Penulis: Titan Amaliani dan Nanda Yogisvara

Kau merasa kau normal.
“Memang belum sepenuhnya. Aku hanya ingin menjalani kehidupan yang normal. Kubiarkan batinku menderita demi kehidupan yang layak, yang tidak di tentang agamaku, kedua orang tuaku, ataupun lingkunganku.”
Kalau begitu kau telah membohongi dirimu.
“Entahlah… tapi kutau aku bahagia selama ini.”
Bahagia? Hei... lihat apa yang telah di lakukannya. Dia telah menyia-nyiakanmu. Apakah itu yang di sebut bahagia?
Praaak…cermin itu pun pecah di hantam sebuah kepalan tangan.
“Kau tak akan mengerti.” Bentak seorang wanita kepada bayangannya di cermin.
Kemudian dia melemparkan tubuhnya ke atas kasur, membiarkan hatinya mencabuti serpihan-serpihan kaca yang di taburi suaminya.
Kau benar-benar keparat. Aku rela merubah jalan hidupku yang dulu sangat kunikmati, tapi ternyata kau malah selingkuh dengan lelaki itu. pantas saja kau lebih bernafsu ketika aku dulu masih berdandan seperti lelaki… gumam wanita itu di dalam hati.
*****
“Kau mencintainya?”
Andre hanya diam tak menjawab pertanyaan Deni. Dia hanya duduk menghadap cermin, melihati potret dirinya yang lusuh.
“Tolong jawab pertanyaanku.” suara Deni sedikit mengeras.
“Tapi aku tidak tau.”
“Aku sangat mencintaimu ndre.”
Andre hanya memandang Deni dari cermin kemudian kembali memandangi dirinya sendiri sambil memain-mainkan gunting.
“Andree…” Deni menghampiri Andre yang duduk di depan meja rias. Kemudian dia memeluknya.
“Lepaskan tanganmu den. Sekarang apa maksud kamu membawa aku ke apartemenmu ini?”
“Menghiburmu.” Jawab Deni sambil melepaskan pelukannya.
*****
Apa yang harus kulakukan. Aku tak pernah ingin terlahir dengan keadaan ini. Aku lelah membohongi diri ku sendiri. Tuhan salahkah aku? Aku bukan tidak menerima fitrahku, tapi siapa yang bisa menghindar dari kelainan susunan gen yang kau berikan padaku. Apakah aku harus melawan pemberianmu ini? Tapi bagaimna caranya Tuhan? Bukankah seharusnya kita harus bersyukur terhadap apa yang telah Kau beri?
Wawan duduk di sebuah kursi di taman malam. Malam ini dia ingin sendiri, meresapi, dan mengintropeksi diri. Wawan meminum teh botolnya dan kembali menatap langit hitam, mencurahkan isi hatinya.
Apakah aku terlalu egois? Bagaimana dengan lira yang selama ini telah setia menemaniku, merawatku, dan melayaniku. Dia sendiri akhirnya mampu menjadi wanita seutuhnya yang cantik, tulen, dan istri yang patuh kepada suami. Awalnya mungkin dia tidak mencintaiku karena dia lebih menyukai sejenisnya, tapi siapa sangka dia telah menjadi seorang ibu yang nyaris sempurna. Dia tak pernah lelah dan mengelu menjalani kehidupannya sebagai ibu rumah tangga, Kenapa aku tega mengkhianatinya? Sesungguhnya aku tak pernah menyesali perjodohan ini. Tapi…ah entahla.
Wawan mengambil handphone dari sakunya. Membaca ulang sms-sms dari andre, pacarnya. Dia tersenyum-senyum sendiri, membuat iri langit hitam yang frontal menatapnya dari atas. Dia sangat mencintai andre. Tak ada yang lebih di cintainya selain Andre.
Wawan bangkit dari bangku taman. Dia berjalan menikmati sejuknya udara malam, menelan keindahahn city light kedalam matanya, menyusuri sudut-sudut kota denagn kedua kakinya. Namun tak sengaja ia melihat sepasang suami istri sedang membawa bayi mungil keluar dari minimart. Betapa bahagia mereka. Dia kembali teringat Lira yang telah di buangnya begitu saja dari dinding matanya..
Bagaimana keadaannya sekarang setelah dia memergoki perselingkuhanku? Bukan mengejarnya, tapi aku malah memaksanya meminum pil pahit ini, tak mempedulikan muntahannya yang berceceran di wajahku dan andre, dan mengikhlaskan dia yang meninggalkan kami dengan mencuri luka yang belum resmi kami hadiahkan buatnya. Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan. Lira begitu baik selama ini. Mengapa aku membalasnya dengan lemparan pisau tepat disenyumnya yang manis? Tapi aku juga tak bisa jika harus mengakhiri hubungan dengan Andre. Tuhan, bagaimana bisa aku menyakiti Andre, bagaimana caranya agar aku bisa meninggalkan Lira dan peri kecil kami.
Sementara gerimis mulai menyerbunya dengan butiran halusnya. Bintang-bintang mulai muak memberikan pemandangan indahnya kepada wawan. Pria itu tidak memilih untuk bersembunyi, dia menantang alam untuk bersahabat dengannya.
Ah Lira… pasti dia menangis, mahluk lemah itu, kini semakin lemah. Tak ada kekuatan lagi dalam dirinya seperti dahulu.
Dia perempuan terkuat yang mampu melemahkanmu, dia perempuan terindah yang mampu mengindahkanmu. Dia perempuan terbaik yang mampu membaikkanmu dengan segala kelemahanya, Sayangi dia sebagaimana aku menyayangimu.
Kata-kata ibunya yang mencalonkan Lira padanya terngiang lembut dipikirannya. Dan ia ingat semua saat-saat lira ada untuknya, melayaninya dengan penuh cinta, dan kehangatan yang seperti sungai yang tidak pernah kering.
“Aku menyayanginya !” wawan berteriak.
Wawan bergegas pulang. Menemui Lira untuk sesegera mungkin meminta maaf. Hanya satu hal yang diharapkannya, kata maaf dari Lira atas pengkhianatannya, atas ketidaksempurnaannya. Meski dalam pikirannya masih terbanyang wajah Andre, sentuhan Andre, dan semua kisah romentismenya bersama Andre. Ia tepis semua itu demi membayangkan kebahagiaan Lira. Wawan pun mendapat pencerahan dari angin-angin yang melintas halus ditelinganya, bahwa tulang rusuknya yang hilang tak mungkin adalah Andre, karena tulang rusuk Andre pasti juga ada didalam tubuh makhluk ciptaan Tuhan paling indah. Wawan ingin kembali pada tulang rusuknya yang hilang.
Pintu tidak dikunci hanya pintu kamar yang tertutup dengan suara shower yang menyala. Wawan memasuki kamar. Kosong. Cermin di meja hias pecah berantakan. Pintu kamar mandi terbuka. Tak ada suara Lira yang selalu bernyanyi setiap mandi. Wawan memberanikan diri masuk kamar mandi.
Hkh… nafasnya tercekat melihat Lira tanpa rambut panjangnya lagi, Lira menjelma kembali menjadi Lira berambut plontos yang kini penuh pernak-pernik luka dikepala, dengan tubuh penuh goresan, tertidur lemah dibawah shower. Air yang mengalir ke lubang pembuangan air tak lagi beraroma sabun seperti favorit Lira, tak lagi berbusa. Hanya bau amis yang tercium. Bercak darah dimana mana.
Wawan, memeluk Lira yang lemah.
“Wan…” ucapnya lemah sambil tersenyum.
“Apa yang kamu lakukan?” ucap wawan. Mengangkat Lira ke tempat tidur. Membersihkan semua luka Lira.
***
Andre, maaf hubungan kita harus sampai disini, gue gk bisa ninggalin Lira, gue syg dia.
Sender : [08***********] Honey
Andre terdiam mulai terisak…
Semudah itu kau berpaling hanya karena dia pilihan ibumu. Hanya karena dia wanita lemah. Begitu mudah kau hancurkan semua mimpi kita. Cintaku
Andre terisak.
“Ndre, kamu kenapa?” Tanya Deni merangkulnya.
Andre melepaskan rangkulan Deni.
“Ndre cerita sama aku.”
Andre masih bungkam.
Deni mempererat pelukannya, menciumi aroma tubuh Andre. Akhirnya Andre luluh. deni kemudian mengajak andre bercinta. Andre pun menyambutnya. Mereka sudah benar-benar tanpa sekat yang menghalangi hangatnya kulit-kulit mereka ketika bersentuhan. Deni melumat manja bibir andre, andre pun membalasnya dengan tak kalah lembut.
Deni mendesah pilu… sebuah gunting tertancap manis di perutnya yang tipis. Mengalirkan darah ke sekujur tubuh andre. Andre terlihat belum puas. Dia membalikkan tubuh deni, dan kembali menghujani perut deni dengan tarian setan menembus dinding perut deni berulang-ulang.
“Sampai bertemu di surga. Aku tak mau dikhianati lagi.” Ucap andre dengan nafas tersengal-sengal. Andre pun menjemput deni dengan melakukan tarian yang sama ke perutnya.