Dia mengusap pipi gadis itu dengan lembut dan manja, menikmati sensasi yang
mengalir dari telunjuk dan menjalar ke seluruh tubuh. Dia melakukannya dengan
sepenuh hati, sepenuh cinta yang dia punya. Membuat gadis itu ikut merasakan gelombang
yang sama, dan sekejap dia memeluk lelakinya, mendekapnya penuh cinta.
Malam yang dingin menjadi lebih hangat karena khasiat nyata dari cinta.
Ari tersentak. Kaget melihat sepasang tangan melingkar di perutnya dan pipi lembut
menyentuh pipinya. Segera ia menoleh ke sosok yang datang tiba-tiba. Betapa
kaget dia melihat Risty. Gadis yang baru dilamunkan, yang tadinya hanya ilusi,
kini benar-benar nyata hadir di depannya. Ari tak bisa bicara, tak melakukan
apa-apa, hanya memandanginya. Perasaan bahagia ternyata telah membuatnya
menjadi patung es yang segera meleleh.
Risty tersenyum melihat ekspresi Ari, tanpa suara ia menarik tangan cinta
pertamanya itu menuju suatu tempat.
Sekarang mereka berdua berada di sebuah ruangan, kosong, sepi. Risty
duduk di sebelah kiri Ari. Mereka duduk di sofa. Tangan kanan Risty meremas
erat-erat tangan kiri lelaki gantengnya. Meluapkan kerinduan yang selama ini ditahan.
Tapi bibir mereka masih saja sebeku suhu ruangan itu, seolah mereka bicara
tentang cinta dan kerinduan hanya melalui tatapan mata, serta senyuman yang
merona berwarna merah semerah cinta.
Lampu mendadak mati. Layar mendapat pantulan sinar dar proyektor. Tertera
film berjudul Our Memory. Mereka
saling memandang ketika tulisan di layar menampilkan sebuah film karya “Hati”.
Sebuah kisah dari kepingan-kepingan masa lalu.
Film itu menceritakan kisah mereka. Kisah bahagia. Ketika mereka berdua
larut dalam suasana cinta yang masih murni. Cinta yang suci seperti air hujan,
kalau jatuh ke selokan yang kotor maka kesuciannya pun hilang, jika ia jatuh ke
tanah yang tandus kesuciannya tak berarti apa-apa, jika jatuh ke tanah yang subur dia dapat menghidupi
tanaman-tanaman yang tumbuh disitu, jika ia jatuh ke kolam yang jernih dia akan
mensucikan orang-orang yang mandi di kolam itu.
Cinta itu jatuh di kolam yang jernih, kolam yang belum terkontaminasi
limbah dunia, limbah hasrat, limbah nafsu, limbah kebencian, limbah kecemasan,
limbah kesedihan, dan limbah yang tidak bertanggung jawab. Mereka masih mandi
di kolam itu, kolam yang jernih, kolam yg polos, kolam yang lugu.
Film terus menceritakan kisah masa lalu mereka. Masa lalu diputar kembali,
menyegarkan cinta lama yang sudah lesuh oleh waktu, oleh mata yang tak pernah
bertatap dan mulut yang tak pernah bersapa.
Film masih terus berlangsung. Amrita berdiri di belakang mereka menyaksikan
mereka berdua dan film itu. Posisinya memang agak jauh, tapi cukup jelas untuk
melihat kemesaraan yang terpampang di layar maupun di sofa. Dia menangis, dan
hanya menangis.
Mendadak layar mati, film tak selesai. Gelap sesaat sebelum lampu kembali
hidup, tapi Risty sudah tidak ada disamping Ari. Dia mencari ke seluruh ruangan
bioskop tapi tak ada jejak Risty sama sekali. Sewaktu ingin keluar untuk
mencari Risty, hapenya berdering.
Ari terjaga. Tersadar akan semua yang baru dialaminya. Tapi pesan singkat
ini nyata. Sebuah pesan singkat dari Amrita, “Dasar sialan... kau anggap
apa aku selama ini.”
Dia bingung setengah mati. Salah apa dia. Apa Amrita tau dia sedang
memimpikan masa lalunya. Ah tidak mungkin, gumamnya. Dia melihat jam di dinding
ruang kerjanya. Jam 12 malam. Buru-buru dia bergegas untuk pulang.
Ari tiba di rumah, disambut tangisan amrita. Bingung mencari tau apa
salahnya, selama ini dia selalu berusaha membuatnya bahagia, menyulamkan sweater dari benang-benang di jantungnya
supaya Amrita hidup bersamanya. Dia tidak ingin kehilangan perempuan itu
seperti dia kehilangan Risty. Dia tidak ingin melakukan kesalahan yang sama.
Ari mencoba bertanya kenapa ia menangis. Bukan jawaban, Amrita malah
menjadi marah. Nadanya tinggi.
“Kau bertanya? Seharusnya aku yang bertanya, kau anggap apa aku
selama ini? Kenapa kau masih menyimpan foto-foto mantan pacarmu itu?”
untuk pertama kalinya Amrita menggunakan kata “kau” kepada Ari.
Ya Tuhan... ternyata itu penyebabnya. Seharusnya tak
ada foto-foto itu di dalam rumah ini. gumam Ari dalam hati.
“Kenapa kau diam? Apa artiku di hidupmu?” kemarahan Amrita semakin memuncak.
“Menjagaku? Menyayangiku? Kau bilang kita harus selalu merawatnya,
menyirami pohon cinta ini biar tetap mekar, tetap tumbuh sehat. Tapi ternyata
kau malah memberi racun. Dan kini dia sekarat”
“Kau boleh menyimpan masa lalumu, tapi cukup di hatimu saja. Jangan kau
simpan di mataku.”
Ari hanya diam. Tak berdaya.
Amrita pergi meninggalkannya ke kamar tidur, menutup pintu hatinya,
menguncinya sampai amarahnya meredah. Tidak tau kapan harus di buka untuk
menerima maaf dari pria yang tak menghargainya.
(Bersambung ke Sebuah Cerpen Untuk Cinta 2)
Penulis: Nanda Sayogi
No comments:
Post a Comment