Wednesday, April 15, 2015

Sebuah Cerpen Untuk Cinta (1)



Dia mengusap pipi gadis itu dengan lembut dan manja, menikmati sensasi yang mengalir dari telunjuk dan menjalar ke seluruh tubuh. Dia melakukannya dengan sepenuh hati, sepenuh cinta yang dia punya. Membuat gadis itu ikut merasakan gelombang yang sama, dan sekejap dia memeluk lelakinya, mendekapnya  penuh cinta. Malam yang dingin menjadi lebih hangat karena khasiat nyata dari cinta.
Ari tersentak. Kaget melihat sepasang tangan melingkar di perutnya dan pipi lembut menyentuh pipinya. Segera ia menoleh ke sosok yang datang tiba-tiba. Betapa kaget dia melihat Risty. Gadis yang baru dilamunkan, yang tadinya hanya ilusi, kini benar-benar nyata hadir di depannya. Ari tak bisa bicara, tak melakukan apa-apa, hanya memandanginya. Perasaan bahagia ternyata telah membuatnya menjadi patung es yang segera meleleh.
Risty tersenyum melihat ekspresi Ari, tanpa suara ia menarik tangan cinta pertamanya itu menuju suatu tempat.
 Sekarang mereka berdua berada di sebuah ruangan, kosong, sepi. Risty duduk di sebelah kiri Ari. Mereka duduk di sofa. Tangan kanan Risty meremas erat-erat tangan kiri lelaki gantengnya. Meluapkan kerinduan yang selama ini ditahan. Tapi  bibir mereka masih saja sebeku suhu ruangan itu, seolah mereka bicara tentang cinta dan kerinduan hanya melalui tatapan mata, serta senyuman yang merona berwarna merah semerah cinta.
Lampu mendadak mati. Layar mendapat pantulan sinar dar proyektor. Tertera film berjudul Our Memory. Mereka saling memandang ketika tulisan di layar menampilkan sebuah film karya “Hati”. Sebuah kisah dari kepingan-kepingan masa lalu.
Film itu menceritakan kisah mereka. Kisah bahagia. Ketika mereka berdua larut dalam suasana cinta yang masih murni. Cinta yang suci seperti air hujan, kalau jatuh ke selokan yang kotor maka kesuciannya pun hilang, jika ia jatuh ke tanah yang tandus kesuciannya tak berarti apa-apa, jika  jatuh ke tanah yang subur dia dapat menghidupi tanaman-tanaman yang tumbuh disitu, jika ia jatuh ke kolam yang jernih dia akan mensucikan orang-orang yang mandi di kolam itu.
Cinta itu jatuh di kolam yang jernih, kolam yang belum terkontaminasi limbah dunia, limbah hasrat, limbah nafsu, limbah kebencian, limbah kecemasan, limbah kesedihan, dan limbah yang tidak bertanggung jawab. Mereka masih mandi di kolam itu, kolam yang jernih, kolam yg polos, kolam yang lugu.
Film terus menceritakan kisah masa lalu mereka. Masa lalu diputar kembali, menyegarkan cinta lama yang sudah lesuh oleh waktu, oleh mata yang tak pernah bertatap dan mulut yang tak pernah bersapa.
Film masih terus berlangsung. Amrita berdiri di belakang mereka menyaksikan mereka berdua dan film itu. Posisinya memang agak jauh, tapi cukup jelas untuk melihat kemesaraan yang terpampang di layar maupun di sofa. Dia menangis, dan hanya menangis.
Mendadak layar mati, film tak selesai. Gelap sesaat sebelum lampu kembali hidup, tapi Risty sudah tidak ada disamping Ari. Dia mencari ke seluruh ruangan bioskop tapi tak ada jejak Risty sama sekali. Sewaktu ingin keluar untuk mencari Risty, hapenya berdering.
Ari terjaga. Tersadar akan semua yang baru dialaminya. Tapi pesan singkat ini nyata. Sebuah pesan singkat dari Amrita, “Dasar sialan... kau  anggap apa aku selama ini.”
Dia bingung setengah mati. Salah apa dia. Apa Amrita tau dia sedang memimpikan masa lalunya. Ah tidak mungkin, gumamnya. Dia melihat jam di dinding ruang kerjanya. Jam 12 malam. Buru-buru dia bergegas untuk pulang.
Ari tiba di rumah, disambut tangisan amrita. Bingung mencari tau apa salahnya, selama ini dia selalu berusaha membuatnya bahagia, menyulamkan sweater dari benang-benang di jantungnya supaya Amrita hidup bersamanya. Dia tidak ingin kehilangan perempuan itu seperti dia kehilangan Risty. Dia tidak ingin melakukan kesalahan yang sama.
Ari mencoba bertanya kenapa ia menangis. Bukan jawaban, Amrita malah menjadi marah. Nadanya tinggi.
“Kau bertanya? Seharusnya aku yang bertanya,  kau anggap apa aku selama ini? Kenapa  kau masih menyimpan foto-foto mantan pacarmu itu?” untuk pertama kalinya Amrita menggunakan kata “kau” kepada Ari.
Ya Tuhan... ternyata itu penyebabnya. Seharusnya tak ada foto-foto itu di dalam rumah ini. gumam Ari dalam hati.
“Kenapa kau diam? Apa artiku di hidupmu?” kemarahan Amrita semakin memuncak.
“Menjagaku? Menyayangiku? Kau bilang kita harus selalu merawatnya, menyirami pohon cinta ini biar tetap mekar, tetap tumbuh sehat. Tapi ternyata kau malah memberi racun. Dan kini dia sekarat”
“Kau boleh menyimpan masa lalumu, tapi cukup di hatimu saja. Jangan kau simpan di mataku.”
Ari hanya diam. Tak berdaya.
Amrita pergi meninggalkannya ke kamar tidur, menutup pintu hatinya, menguncinya sampai amarahnya meredah. Tidak tau kapan harus di buka untuk menerima maaf dari pria yang tak menghargainya.

(Bersambung ke Sebuah Cerpen Untuk Cinta 2)


Penulis: Nanda Sayogi



No comments:

Post a Comment