Saturday, August 27, 2011

Benci "Rindu"



By: mr Svara & Dhona Bote



Aku tak tahu kalau rindu sehalus kapas
Benangnya putih, hampir tak terlihat
Begitu halus, begitu lembut
Sisi hatiku karena derita, sungguh tak menyadarinya

Dia sesejuk air
Menyejukkan tubuhku yang kering di peras teriknya siang
Menyegarkan kaki yang lelah melangkah
Mengalir di kerongkongan yang tandus

Hanya hati yang mampu melihatnya
Mata telah buta
Sepasang pedang menancap sewaktu aku menikmati hadirnya

Benalu rindu ini pedih, mengikis kulit
Melapukkan tulang-tulang
Membungkukkan tubuh yang dulu tegap
Mengeringkan ranting-ranting yang dulu rimbun

Aku benci situasi ini
Ingin kuakhiri
Tapi... Aku terlalu menikmati api cintanya
Membiarkan hati dibakar panas asmara

Rindu...
Pergilah, jangan lagi berada di baju hatiku
Nodamu akan kucuci
Sehingga hatiku segar kembali




Tentang Kami

 Tentang :  
aku ingin mendapat cahaya dan menjadi cahaya



 Kutipan Favorit :  
"Kuhancurkan tulang-tulangku, tetapi aku tidak membuangnya sampai aku mendengar suara cinta memanggilku dan melihat jiwaku siap untuk berpetualang" (Kahlil Gibran)

Friday, August 26, 2011

Darah Muda Berdarah

Penulis : mr Svara



Hari minggu itu kami harus membatalkan perjalanan ke Berastagi yang sudah direncanakan, karena baru saja Cahaya menelpon, memberitahu kalau ibu masuk rumah sakit. Aku pun meninggalkan Kleo di kamar kostku, dan buru-buru pulang untuk melihat kondisi  wanita yang paling kusayangi itu.
Hanya saat bersama Kleo lah aku bisa merasakan hangatnya sinar mentari menyentuh kulitku, mata pun di suguhi indahnya lukisan alam dimana awan-awan berserakan di langit biru. Pemilik bibir Dian Sastro kw 1 ini selalu tidur bersamaku disabtu malam, bersiap menyambut hari minggu untuk menikmati keindahan alam. Dimulai dari mentari menampakkan dirinya sampai ia bersembunyi kembali.
Berbeda saat aku bersama seorang sahabatku. Kami  selalu menghias malam yang hitam dengan beraneka warna kegiatan, main biliar, futsal, nongkrong di cafe, karaokean, dugem, main kartu, atau apapun yang membuat hari kami seperti musik rock yang penuh dentuman, menyentak-nyentak dan memecahkan perputaran waktu sampai tidak terasa matahari sudah menegur kami, dan mengatakan saatnya kalelawar tidur.
Namun keduanya tetap indah di hatiku. Baik bersama sahabat ataupun pacar. Mereka hadir menulis cerita-cerita di lembaran masa mudaku, membuat kertas kehidupanku tidak kosong. Sebuah kisah yang bisa dibanggakan kepada dunia, kalau hidupku tidak hanya berwarna hitam dan putih, tetapi seperti warna pelangi yang semua orang menantinya.
Kami bertiga seperti sepakat kalau masa muda yang singkat ini terlalu sayang jika di jalani dengan kehidupan  yang monoton. Masa muda adalah sebuah kilat yang bergerak menyinari bumi dengan kecepatan 150.000  km/detik. Betapa cepat dan singkat, jadi masa ini haruslah dijalani dengan berbagai macam hal yang menarik, dan  mencoba hal-hal baru yang menantang.
Setelah tiga jam perjalanan darat dari kota Medan – karena hanya jalur itu yang tersedia, akhirnya aku sampai di kota Pematang Siantar. Sebuah kota idaman. Kota yang  Indah, damai, aman, dan nyaman yang kali ini tidak memberi kesan seperti itu kepadaku karena suasana hati yang gusar dan cemas tentang kondisi kesehatan perempuan yang melahirkanku. Ku parkirkan sepeda motorku di halaman parkir rumah sakit Horas Insani.
Pintu flamboyan no.14  kubuka, kulihat ibu berbaring lemah dengan jarum infus mengepit ujung telunjuknya. Kulihat Cahaya dengan setia menemani dan merawat ibu. Dia adalah anak dari adiknya ibu. Anak manis itu sudah bersama kami selama sepuluh tahun sejak ayah ibunya tewas dalam kecelakaan lalu lintas, ketika itu dia masih berumur empat tahun. Kulihat juga ayah yang duduk kaku di kursi roda. Stroke menyerangnya sekitar lima tahun yang lalu, ia tidak kuat menerima kenyataan bahwa perusahaan yang dirintisnya dari nol sampai menjadi perusahaan yang cukup sukses di kotaku kini berada ditangan adiknya lewat cara curang – selama ini ibu lah yang menghidupi kami, ia bekerja sebagai karyawan disebuah Bank Swasta. Kulihat sorot mata ayah menatap cinta sejatinya, mata yang berkaca-kaca itu seolah berbicara tentang kesedihan, tentang keinginannya untuk melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukannya, bahkan untuk sekedar membelai rambut istrinya. Aku menghampiri ayah, mengecup kening, dan memeluknya. Kini kilatan kaca di matanya berubah menjadi titik-titk air  dan menetes ke pipinya. Sekali lagi matanya berbicara, berbicara tentang kerinduan dan harapannya padaku.
“Kata dokter ibu hanya terlalu capek dan banyak pikiran bang, dan sekarang ibu lagi tidur.” Cahaya menjelaskan tentang kondisi ibu.
Ku tarik nafas dalam-dalam, mencoba menetralisir rasa takutku. “Ayak dan ayah sekarang pulang saja, pasti kalian lelah. Kita gantian, sekarang biar abang yang jagain ibu.”
Ku pandangi wajah pucat dari seorang wanita yang penuh cinta, dedikasi, dan kesetiaan terhadap keluaraga, suami, dan anaknya. Dia bukan hanya seorang ibu bagi kami, tapi dia adalah peri yang kecantikkan hatinya tak pernah luntur meski dia turun ke bumi yang kotor ini, dan dengan tongkat saktinya dia selalu berusaha memberikan kami energi, meski sekali kayuhan tongkat itu telah menguras energinya sendiri.
 Aku tertidur di kursi dengan kepala merebah di samping ibu sebelum merasakan rambutku dibelai lembut sekali, akupun terjaga dan melihat ibu sudah bangun.
“Anak ibu apa kabar?” dia masih bisa menanyakan kabarku dalam kabarnya yang tidak baik, dia pun tetap menyunggingkan senyum keibuannya.
“Lagi gak sehatlah... orang ibu juga lagi gak sehat.” Jawabku.
“Ibu hanya ingin datang ke acara wisudamu nak.” Ucap ibu lirih.
Ibu maafkan langkah liarku yang keluar dari lingkaran harapanmu. Lingkaran yang kubuat sendiri  yang ternyata telah melukis kegelisahan di hatimu. Kulihat wajahnya kini dipenuhi guratan-guratan penuaan, dia tampak lebih tua dari usianya. Aku sadar akulah yang menggores-gores wajah itu hingga timbul banyak guratan.
“Ayahmu juga berharap demikian. Bahkan lebih dari itu ketika dia menamaimu Bintang.” Dia menarik nafas, menatapku tajam, tetapi tetap hangat , “ Kamu anak kami satu-satunya, jika ibu pergi besok ataupun lebih cepat, apa kamu sudah siap?”
Butiran-butiran air mata menyembul di sudut mataku, merembes ke permukaan pipi. Aku telah menari dalam derita mereka,  memberi kado kegagalan, membunuh sebuah harapan besar. Aku yang di siapkan menjadi orang yang dapat menaikkan kembali derajat dan martabat keluarga malah menjadi batu yang membebani mereka. Akupun berjanji pada ibu untuk menyelesaikan kuliah di tahun ketujuh ini.
Aku kembali ke kota medan untuk menunaikan janjiku pada ibu. Lama tidak kuliah membuat saraf-saraf  kepala menegang karena tidak siap menerima materi-materi yang seberat gajah. Setelah selesai kelas akupun pergi ke warnet mengambil paket tiga jam untuk bermain game online.
Tiga jam berlalu, aku merasa lega karena saraf-saraf ini sudah kembali ringan, aku menuju operator untuk membayarnya. Sambil menunggu operator yang sedang menghitung uang kembalianku, aku keluar untuk mengecek keberadaan sepeda motorku, karena sudah sering terjadi curanmor di warnet.
Jantungku berdegup kencang. Mendadak seluruh persendianku melemas. Aku terduduk meraba-raba lantai bekas motor yang kuparkirkan kini sudah tidak berbekas. “Bang keretaku mana bang?” Kereta adalah sebutan untuk sepeda motor di sebagian besar wilayah di sumatera utara. Mendegar teriakanku se-isi warnet pun keluar. Tapi mereka tak cukup menolong, hanya bisa berbagi panik dan simpati.
Aku coba menelepon Kleo, tapi nomornya tidak aktif. Aku sangat membutuhkannya untuk menenangkanku dan memberi masukan. Rumah Kleo tidak jauh dari sini, akupun melangkah menuju rumahnya.
Lega melihat ada honda scoopy terparkir di garasi rumahnya. Itu tandanya Kleo ada di rumah. Setelah mengetuk pintu berkali-kali tapi tidak ada jawaban, aku masuk saja menuju kamarnya. Aku terbisa begini jika tidak ada yang merespon salamku, yang artinya papa mama Kleo sedang ke luar kota, dan Kleo sedang tidur di kamarnya.
Aku selalu tersenyum melihat pintu kamar Kleo yang di tempeli poster  film Titanic bergambar Jack Dawson dan Rose De Witt Bukater yang sedang berciuman. Tapi senyumanku mendadak lenyap ketika pintu ku buka. Petir kembali menyambarku untuk kedua kalinya di siang yang gerah ini. Aku tak percaya melihat apa yang ada di depan mataku. Dua makhluk keparat tanpa sehelai benang sedang bercumbu ria.
Mereka berdua terkejut melihat aku yang tiba-tiba berdiri di depan kamar dan memergoki pengkhianatan itu. Segera saja mereka buru-buru menutupi tubuhnya. Ku hampiri Yuda untuk mematahkan batang hidungnya dengan kepalan tangan yang sudah kusiapkan. Tapi aku teringat akan nasihat ibu kemarin untuk berhenti melakukan hal yang tidak perlu. Akupun mengganti kepalan tangan yang telah kusiapkan tadi  menjadi salam jari tengah ke wajah Yuda. Setidaknya itu tidak lebih buruk daripada aku harus mendekam di balik  jeruji besi. Kemudian aku keluar dari kamar  tanpa menoleh ke arah Kleo. Kudengar Kleo menangis memanggil dan mencoba mengejarku, tapi kesalahannya yang fatal mengalahkan keberaniannya.
Aku berjalan melewati jalan-jalan yang berdebu. Siang ini memang panas sekali. Tapi bukan debu yang membuat nafasku sesak, bukan pula panasnya cuaca yang membakar seluruh inci tubuhku, melainkan rentetan kejadian yang kualami. Ibu yang sakit karena ulahku, motor yang hilang, pacar yang selingkuh, sahabat yang berkhianat, membuat aku menjadi makhluk paling lemah karena darahku habis dihisap drakula yang kuciptakan sendiri.
Kakiku tidak sanggup berjalan lebih jauh lagi. Aku berhenti dan duduk di depan warung yang tutup. Hati ini masih tidak menyangka mereka berdua tega melakukan itu. Semua  warna yang mereka sajikan ternyata  hanya hitam yang menjelma menjadi pelangi. Dua orang yang paling kubanggakan itu ternyata memberi jus yang berisi racun, menghancurkan semua organ dalam tubuhku di saat aku menikmati manisnya  keberadaan mereka. Kutarik nafas dalam-dalam, mencoba menetralisir darah yang mendidih ini agar tidak keluar dari pori-pori kepalaku. Kurunut rentetan kejadian yang menimpaku.  Kini aku teringat sebuah pepatah yang selalu kutentang. Sebuah nasihat orang melayu tentang kehidupan yang kudengar dari ibu, Jalanilah hidup ini lurus-lurus saja, tidak perlu macam-macam.







Wednesday, August 24, 2011

Surat Cinta Untuk Diana

Penulis : mr Svara




Hujan turun ikut membasahi hati  yang memang sudah meneteskan air mata. Hati ini lebih sering menangis dibandingkan mata lelakiku. Ia  selalu malu untuk jujur kalau ia memang tengah rindu pada perempuan itu. Rindu wajah cantiknya yang melayukan rumput-rumput liar  yang tumbuh dihatiku. Rindu pipi tirusnya dimana waktu itu tanganku selalu berselancar lembut dengan gembira. Rindu bibir merah tipisnya yang selalu menari manja di bibirku ketika kami sedang melakukan ritual cinta.
Mata lelakiku ingin menunjukkan image-nya sebagai lelaki yang tidak boleh cengeng. Tidak boleh ada pecahan-pecahan air mata, apalagi hanya karena seorang perempuan. Airmata karena perempuan adalah sesuatu yang haram. Egois sekali memang, cenderung munafik, tapi yah begitulah… aku harus mampu.
Hujan yang turun sudah berkurang volumenya. Aku masih betah duduk di depan laptop dan memandangi wajah  orang yang kurindukan. Hampir setiap hari aku melihat profil facebook-nya. Kadang aku memohon kepada iblis agar  iblis mau mengahancurkan hubungan mereka. Aku selalu cemburu melihat status hubungan mereka yang “bertunangan”. Apa karena lelaki barunya itu dia tidak mau menerima permintaan pertemananku di facebook. Entahla… yang pasti aku tak akan menyerah untuk mendapatkan kembali sapaannya. Hanya itu yang kuinginkan.
Jam dinding di kamar menunjukkan pukul delapan malam. Aku berdiri untuk mengambil secarik kertas dari binder untuk menulis surat. Besok aku akan kembali mengirimnya kepada Diana. Dia memang tidak pernah membalas suratku. Tapi aku tidak perduli, aku percaya suatu saat dia pasti akan membalasnya.
Sebenarnya aku masih tidak mengerti kenapa dia begitu membenciku sekarang. Padahal dulu kami pernah berjanji untuk tidak saling membenci meskipun hubungan kami bakalan putus karena jarak yang jauh. Ya… sekitar setahun yang lalu aku meninggalkan kampungku, meninggalkan perempuanku karena aku diterima kerja sebagai asisten produser di stasiun tv nasional di Jakarta.
Kutulis beberapa kata yang menurutku indah agar dia mengenang kisah kami. Apalagi ini tanggal 20 september. Empat tahun yang lalu ditanggal ini aku berhasil mengemut bibir merah tipisnya. Sebuah memori indah yang tidak mungin aku lupakan, karena ciuman itu aku dapatkan setelah kami berpacaran selama setahun. Aku harus menunggu setahun untuk bibir merah tipis itu.
“WOOY…” Aku dikagetkan oleh Yeni yang sekonyong-konyong masuk ke kamarku.
“Masih aja lo nulis surat. Kaya’ zaman kakek  kita sebelum disunat.”
“Ah resek lo. Ini bukan tentang zaman cunk. Zaman tidak akan mempengaruhi kesan dari sebuah surat cinta. Gue yakin, kalau lo dapat surat cinta, perasaan lo juga pasti sumringah. Surat cinta itu alat dokumentasi yang paling indah. Kapan lo mau baca lo bisa baca, pas tiduran, kekamar mandi, ok. Gak ribet. Dan intinya… lebih berseni.”
“Dan intinya… surat lo juga kagak pernah di balaskan? Sama siapa…? Diana ya? Hehehe… da ah. Ni gue bawain makanan. Lo pasti belum makan. Yaudah lo lanjutin noh ritual udik lo. Gue mau balik dulu. Daa… jelek.”
“Makasih…” jeritku sambil menyimpan makanan pemberiannya. Rumah Yeni tiga pintu ke kiri dari rumahku. Kami tinggal di rumah susun modern.
Aku kembali berkonsentrasi untuk merangkai kata, tidak peduli harus dikatain udik oleh sahabatku tadi. Aku yakin dia hanya cemburu. Iri karena pacarnya tidak pernah mengirimnya surat cinta. Mereka hanya mengobrol di telepon, sms, sekali-kali menggunakan fasilitas 3G, webcam, skype, dan fasilitas modern lainnya. Benar-benar tidak original. Aku bukan anti teknologi, tapi aku tidak ingin teknologi menguasaiku, terlebih mendominasi urusan cinta. Cinta harus diperlakukan dengan seni. Didalam cinta ada seni  rupa, dimana kita harus mengolah, dan membentuk cinta. Ada juga seni musik, kau harus bisa menciptakan syair-syair cinta dan menyanyikannya dengan segenap cinta. Dan seni dokumentasi, yaitu menyimpan semua kenangan tentang cinta agar cinta abadi tersimpan di hati. Di dalam surat cintalah semua aliran seni berkumpul, menyatu, dan bersinergi membentuk energi dahsyat yang tidak bisa digantikan oleh teknologi modern saat ini.
Akhirnya selesai juga suratku. Kumasukkan surat ini kedalam sebuah amplop cokelat. Aku tak pernah tergoda untuk menggunakan amplop berwarna lain, karena bagiku cokelat adalah maskulin, selain itu juga mewakili genderku. Kuletakkan amplop itu di atas meja.
Aku berdiri menuju jendela. Kubentangkan pandanganku ke semak-semak indah di langit. Hujan sudah dua jam yang lalu berhenti sehingga bintang-bintang sudah berani eksis kembali untuk memanjakan mata fans-fansnya. Aku teringat perkataan Diana, “jika kau merindukanku dan kita tidak bisa bertemu karena sesuatu hal, pandanglah ke arah langit yang penuh bintang, hayalkanlah wajahku yang bersinar yang sedang tersenyum melihatmu. Balaslah senyumku.  Mudah-mudahan  senyummu juga terlintas di benakku ketika aku melupakanmu karena kegelapan yang menyerangku.”
Kulakukan ritual itu, kulihat wajahnya bersinar dan tersenyum melihatku. Dia cantik sekali, jauh lebih cantik dari Diana setahun yang lalu. Aku pun membalas senyumnya dengan senyum kerinduan. Kukeluarkan semua lemak-lemak rindu yang menumpuk dihatiku. Ajaib… beban rindu itu berkurang. Aku tak sabar untuk mengundang matahari datang. Bukan ingin menghancurkan wajah Diana yang masih bersinar bersama bintang, tapi aku ingin segera ke kantor pos untuk mengirim surat cintaku. Kali ini aku yakin dia pasti akan membalasnya.




Tuesday, August 23, 2011

Cinta Garis Keras


Hai keparat…
Pecundangmu ini rindu memandangi wajah iblismu
Waktu itu hanya ada kau dan aku
Tapi sekarang telah berbeda

Aku mencintaimu lebih dari pengkhianatan-pengkhianatanmu
Aku menikmati duri-duri yang kau hias di hatiku
Aku rindu puisimu yang menelanjangi harga diriku

Kau tau keparat…?
Aku tetap bahagia kau bakar di nerakamu
Meskipun kau tak  betah berada di surgaku.

by: mr Svara 






KONSPIRASI HITAM

Aku tidak pernah menyangka kalau bingkisan yang dititipkan temanku bakal membuatku masuk kedalam lubang. Aku ingin keluar, tapi orang yang bertubuh kecil sepertiku susah untuk menjangkau permukaan lubang besar nan tinggi ini. Matahari pun sulit membantu untuk menemukan jalan keluar alternatif.
Didalam lubang yang gelap ini aku kedinginan. Aku merasa di sekelilingku ada ular yang siap mematuk, atau melilit dan menelanku. Aku coba membaca mantra-mantra untuk melindungi diri, tapi sayang sudah lama kubakar mantra itu dihati. Wanita yang meninggalkanku telah membuat aku tak lagi berharap pada mantra-mantra tolol yang selalu kami bisikkan kepada setan untuk memuluskan aksi menikmati malam yang dingin dengan kehangatan kulit telanjang yang bergesekan.
Sepertinya malam sudah datang. Aku merasa tubuhku semakin lemah. Lubang itu mengeluarkan jarum-jarum terbang yang menusuk-nusuk tulang ini, ngilu sekali. Tidak ada makanan yang tersedia agar aku bisa tidur untuk menenangkan kemalangan ini. Di dalam lapar dan rasa dingin yang amat sangat aku mencaci maki temanku. Ini semua karena dia, dia pasti yang sudah menyiapkan lubang ini untukku. Aku tak menyangka dia tega melakukannya. Andai saja aku dengar kata orang tuaku, pasti aku tak mengalami nasib sial. Keegoisanku yang liar untuk memilih hidup di alam liar akhirnya harus kubayar mahal. Untuk pertama kalinya hatiku di makan mentah-mentah oleh pemangsa.
Daya tahan tubuhku menurun. Aku sudah duduk menyandar di dinding sekitar sejam yang lalu. Tanah di sini sepertinya memiliki penyodot energi yang membuat energiku habis. Aku melihat seorang kakek berjubah putih turun mengambang dari permukaan lubang, di sekitar tubuhnya memancarkan sinar terang yang membuat aku bisa melihat kondisi sekitarku dengan jelas. Dia tersenyum kepadaku. Kemudian temanku yang kucaci maki tadi keluar dari balik tubuhnya. Dia juga memakai jubah putih dan tersenyum. Dengan kekuatan yang tersisa kuberdiri untuk mengejar temanku tadi. Ingin kuhabisi dia disini, tapi sejengkal lagi aku sampai kepadanya mereka sudah menghilang.
Perutku semakin sakit, tampaknya magh ini kambuh. Aku terbangun dari tidurku. Lubang ini benar-benar neraka yang tidak berapi. Lubang ini adalah neraka yang menyiksa dengan hawanya yang dingin, aku tak bisa melihat apapun, gelap sekali. Aku teringat kakek yang datang kepadaku tadi, dia pasti dewa penolong. Tapi kenapa si bangsat itu ada bersamanya. Aku coba menebak-nebak, karena biasanya tebakanku selalu tepat. Sudah teruji kalau aku sering menang taruhan bola.
Lama berpikir untuk menganalisa mimpi tadi, akhirnya aku mendapatlan hasilnya. Kakek itu datang bersama temanku, mereka berdua tersenyum, dan mereka menerangi lubang ini membuatku bisa melihat dengan jelas dinding-dinding lubang ini. Kemudian kutarik kesimpulan kalau temanku tidak pernah berniat menjebak atau mencelakakanku. Dia orang yang baik. Tapi kenapa setelah bingkisan itu dititipkan padaku, aku jadi mendekam disini? Siapa lagi kalau bukan dia yang menjebak. Aku kembali mengingat- ingat mimpi itu untuk mendapatkan jawaban atas kesialan yang menimpaku. Mereka datang dengan cahaya putih dan jubah putih. Berarti itu sesuatu yang bersih. Aku menarik kesimpulan kalau aku harus berpikiran bersih. Tidak langsung menuduh orang sembarangan.
Aku melipat kedua tangan dikaki yang sudah tekuk rapat. Berusaha mengurangi rasa dingin yang membungkusku. Kupejamkan mata dan berusaha menghiraukan rasa lapar. Aku hanya berharap besok temanku datang dan mengeluarkanku dari ruangan gelap ini. Membuktikan kepada semua orang kalau aku tidak bersalah dan hanya menjadi korban konspirasi hitam.

by: yogisvara